cita-cita

setiap orang pastilah mempunyai cita-cita… apalagi ketika kita masih kecil, seringkali dengan semangat 45 kita menjawab apabila ibu atau bapak guru bertanya apa cita-cita kita ketika kita besar nanti.

apa cita-cita anda ketika kecil dulu? masih ingatkah anda? apakah anda saat ini menjadi apa yg telah anda cita-citakan dulu? atau setidaknya mendekati? apabila jawaban anda adalah ya, maka anda sangatlah beruntung sekali…

apabila jawaban anda adalah tidak… anda tidak perlu bersedih, karena anda tidak sendirian 🙂 menurut survey, hanya 9% dari pekerja yg bekerja sesuai dengan cita-cita masa kecil mereka.

dan aku adalah salah satu dari yg melenceng jauh dari cita-cita masa kecil.

cita-citaku waktu kecil…

sederhana saja…

aku ingin menjadi guru dan ingin ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, begitulah kira2… tetapi akhirnya malah ikutan terbawa arus mainstream juga, yaitu: kuliahlah di jurusan yg paling gampang mencari pekerjaan dan bayarannya okay… maka jadilah aku seorang akuntan. not bad, setidak-tidaknya i love working with numbers.

walaupun sudah bekerja dengan gaji lumayan, aku sempat juga mencoba untuk meraih cita-citaku kembali, aku ingin mengikuti panggilan jiwaku. jadi sempat juga aku melamar untuk menjadi dosen saja di kampusku dulu. begitu ditantang dengan masalah income oleh dosen2 yg mewawancaraiku, hatiku menciut kembali…. ya, comfort zone itu memang berbahaya.

untuk waktu yg lama… aku pikir aku telah melupakan cita-citaku. beberapa waktu yg lalu, aku menemukan foto ini di bahan presentasi menteri pendidikan kita yg baru.

foto yg sangat mengharukan sekaligus menggugah dan membuat hati ini terenyuh…. rasanya aku ingin berada di sana bersama mereka.

2014-12-02_194514

tapi entah kapan…. mungkin suatu hari nanti, mungkin juga hal itu tidak akan pernah terjadi

kadang rasanya hidup ini sia-sia saja… kadang aku suka bertanya kepada suami. apakah dia puas dgn apa yg dia lalukan, tidakkah dia ingin seperti para penerima hadiah noble yg melakukan sesuatu untuk mengubah dunia?

jawabannya enteng saja… 🙂 katanya kita hidup di dunia ini seperti puzzle.. ada keping puzzle yg bergambar, dan lebih banyak lagi adalah hanya keping puzzle pelengkap, namun seluruh keping puzzle memiliki peran yg sama pentingnya. karena puzzle tidak akan selesai tanpa keping pelengkap…. begitulah kira2. jadi kesimpulannya, suami cukup puas hanya sbg peran pelengkap 😉

sedangkan aku ?? kadang2 masih suka bertanya-tanya, dan berandai-andai 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s